Rabu, 17 Agustus 2011

"Kuliah Umum" dari Bapak Manager

Hari senin dan selasa kemarin saya gak posting apapun mengenai kegiatan saya pada hari tersebut. Bukan berarti saya gak KP, tapi ada banyak faktor yang membuat saya agak malas untuk posting artikel. Beberapa faktornya antara lain saya mulai menyentuh laporan KP yang nantinya harus saya kumpul ke kampus dan akan ada sidangnya. Jujur, saya belom menjadi seorang professional writer yang bisa membuat sekian banyak artikel berbobot yang dikejar deadline dalam semalam harus dikumpul. Untuk membuat laporan KP ini saya butuh waktu yang benar-benar diluangkan untuk mengerjakannya. Karena saya butuh mencerna dulu perintah dan format laporan dari kampus, membandingkan contoh yang telah ada, mengingat kembali kegiatan yang telah saya lakukan, dan mulai menyusun sebuah tulisan ilmiah nan formal. Jadi dengan sangat terpaksa posting artikel di blog ini saya kesampingkan dahulu.

Emang sih untuk bagian mengingat kembali kegiatan yang telah saya lakukan gak terlalu sulit. Selain masih fresh karena belom terlalu lama berlalu, saya yang hands on langsung dengan setiap kasus, juga karena rajin posting di blog ini saya sangat terbantu dengan tertatanya semua catatan harian saya beberapa hari tersebut. Tapi masalahnya, bahasa blog dengan bahasa yang harus saya tulis di laporan itu beda. Bukan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Asing yang mana sih, tapi dari bahasa non formal menuju bahasa formal. Mungkin sebagian orang berpikir, “Gampanglah, cuma gitu doank juga.

Tanpa maksud menganggap sulit berlebihan atau malah menggampangkan masalah yang ada, tapi tetap saja itu semua butuh: proses.

Selain mulai disibukkan oleh laporan yang menunggu, ada faktor lain yang gak kalah urgent. Dalam dua hari KP kemarin, kami gak ada kegiatan operasional di lapangan. Dengan kata lain kami cuma nemenin manager beserta jajaran di kantor aje. Tapi bukan berarti kami gak melakukan kegiatan produktif lohh. Jadi selama 2 hari kemarin kami mendapat, sebut saja, kuliah umum mengenai sistem transmisi yang diterapkan di Pulau Sumatera dan Kota Palembang khususnya. Sedikit informasi, di Sumatera ini juga telah menerapkan sistem interkoneksi untuk penyaluran energi listriknya. Terus apa donk masalahnya dari “kuliah umum” itu??

Nahh, masalahnya saya bingung bagaimana untuk menyesuaikan berbagai informasi yang saya terima ini menjadi “layak” untuk dikonsumsi publik. Maklumlah, saya belum ada apa-apanya dalam dunia tulis menulis. Tapi sekarang disini, saya akan mencoba untuk mencerna informasi yang saya terima dan sedikit berbagi di blog ini.

Secara umum materi yang kami peroleh pada hari senin adalah mengenai sistem transimisi dan interkoneksi yang diterapkan di Pulau Sumatera. Selain di Pulau Jawa dan Bali, sistem interkoneksi juga diterapkan di Sumatera. Kurang lebih sistem interkoneksi itu dapat saya gambarkan adalah sebuah sistem yang saling menghubungkan antara pembangkit dan GI yang ada di suatu pulau hingga dimungkinkan terjadi saling transfer energi listrik dari wilayah yang surplus energi ke daerah yang defisit energi listriknya. Sistem ini ditangani P3B (Pusat Pengatur dan Penyalur Beban).

Ada sedikit perbedaan dari segi struktur organisasi antara P3B Jawa-Bali dengan P3B Sumatera. Untuk P3B Sumatera, dibawahnya ada UPB (Unit Pengaturan Beban) dan UPT (Unit Penyaluran Transmisi). Dibawah UPT ada Tragi (Transimisi dan Gardu Induk), dimana yang membawahi beberapa GI (Gardu Induk).

Secara fisik sitem interkoneksi sumatera ini telah tersambung mulai dari Aceh hingga ke Lampung. Tapi di Riau dan Sumatera Utara masih NO (Normally Open). Sistem interkoneksi yang ada di Sumatera menggunakan Tegangan Tinggi yaitu 150 kV, sedangkan di Jawa-Bali menggunakan Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV. Hal ini jelas karena beban di Pulau Jawa-Bali 3 kali lebih besar dibandingkan dengan Beban di Sumatera.

Selanjutnya mengenai secara spesifik sistem transmisi di Palembang. Di Palembang ini sistem transmisinya telah membentuk ring, ada ring dalam dan ring luar. Untuk ring dalam yang berada di dalam Kota Palembang menggunakan tegangan 70 kV, sedangkan ring luar tegangannya 150 kV. Walaupun sebenarnya sistem 70 kV ini sudah tidak lagi dikembangkan. Untuk tegangan menengahnya, di Palembang masih ada 2 jenis, yaitu 20 kV dan 12 kV. Sistem 12 kV ini juga tidak lagi dikembangkan dan hanya ada di beberapa GI.

Idealnya sistem 70 kV yang masih digunakan di kota Palembang ini jangan ditambah beban lagi. Karena sistem ini telah penuh dan faktor n-1 penghantarnya telah terpenuhi. Sehingga bila terjadi gangguan pada salah satu line maka line satunya lagi tak akan sanggup menopang beban yang lepas tersebut. Tentu hal ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan pemadaman yang cukup luas. Namun kalo hanya sekedar untuk natural growth hal ini masih dapat ditoleransi. Jadi kedepannya harus segera diterapkan suatu solusi konkret yang dapat mengantisipasi kemungkinan pertumbuhan listrik yang terus meningkat di Kota Palembang ini.

Comments :

0 comments to “"Kuliah Umum" dari Bapak Manager”


Posting Komentar

 

[Get Widget]