Minggu, 29 Juli 2012

I Dont’t Wanna Grow Up

( peterpan )

Judul diatas merupakan sepenggal kalimat seorang anak yang tinggal di Never Land, musuhnya Kapten Hook, siapa lagi kalo bukan Peterpan. Kalo dari film Peterpan yang saya tonton itu sih, peterpan itu gak mau jadi orang dewasa, dia mau tetep jadi anak-anak terus. Sayangnya saya gak nonton secara lengkap film yang sudah diputar berulang kali di TV ini.

Tapi pendapat dari peterpan ini sangat pas dengan artikel kali ini yang ingin saya tulis. Jadi biarlah saya yang menerjemahkan maksud dari kalimat ini dalam pandangan saya. Walaupun kenyataannya saya sangat bingung nyusun ide pokok buat artikel ini >_<

Kita mulai dengan ruang lingkup kalimat ini. Sebenarnya secara logika tumbuh disini bisa kita kategorikan dalam tumbuh secara fisik, emosional, dan cara berpikir.

Menjadi dewasa itu artinya menjadi manusia yang matang secara emosional, cara berfikir, dan sebagainya. Tentunya ini sangat baik. Namun perlu diingat, untuk menjadi dewasa ini perlu melalui sebuah proses transformasi dari anak-anak menjadi dewasa.

Proses tranformasi ini sering kita sebut dengan masa remaja. Ya, mereka inilah manusia yang sedang mencari jati diri. Seperti pada umumnya proses, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil akhirnya nanti. Begitu pula para remaja, faktor internal dan eksternal sangat berperan penting.

Nahh, di proses transformasi khususnya dari faktor internal inilah yang ingin saya soroti.

Dalam tumbuh menjadi dewasa ini sangat mungkin bagi seorang remaja ini mengalami kelabilan. Ya maklum karena mereka harus mulai meninggalkan dunia anak-anak menuju dunia orang dewasa yang sangat baru bagi mereka. Salah satu langkah yang mungkin ada dipikiran remaja saat itu adalah mulai menyingkirkan beberapa sifat kekanakan agar bisa menjadi orang dewasa yang cool. Disinilah masalah biasanya dimulai.

Saat ia mulai mencoba menghapus sifat kekanakannya ini, pikirannya pun mulai mensugestikan untuk tidak lagi ada sifat tersebut dalam dirinya dikarnakan sudah tidak cocok. Akibatnya saat pikiran mereka telah berhasil membuat “kekebalan” tersebut, maka tubuh mereka akan “menolak” bila suatu saat sifat ini ingin kembali muncul kepermukaan.

Ok, mereka sukses menghapus sifat kekanakan mereka. Tapi apakah kejiwaan mereka otomatis telah siap? Mungkin beberapa orang berhasil mensinergikan hal ini. Sehingga bila masalah terjadi pada mereka, diri dewasa mereka siap mengatasinya. Namun bagaimana yang belom siap? Tentu masalah buat mereka.

Saat masih punya pikiran kekanakan tadi, mereka akan menampilkan diri anak-anak mereka sebagai ekspresi mereka terhadap masalah yang mereka hadapi. Tapi sekarang beda, itu sudah mereka hapus, pikiran mereka menolak, maka tindakan kekanakan itupun tinggal cerita masa lalu, tapi diri dewasa mereka belom siap.

Sehingga biasanya yang terjadi adalah mulai dari galau hingga stres serius. Kalau sudah demikian maka mereka akan mencari pelampiasan, mulai dari orang sekitar hingga social media. Dengan atau tanpa mereka sadari bentuk-bentuk pelmapiasan yang mereka lakukan sangat menunjukkan belum dewasanya mereka bahkan cenderung kekanakan.

Darisinilah saya ingin menunjukkan, sifat kekanakan itu terkadang ada baiknya. Secara umum saya ingin menampilkan sisi positif yang bisa kita ambil dari berbagai macam sifat kekanakan yang ada.

Pertama, anak kecil itu sering nangis tapi ketika nangisnya selesai ya udah selesai masalahnya. Beda dengan orang yang “katanya” dewasa. Nangis tapi begitu selesai, penyesalan akan terus berlanjut. Beda lagi dengan orang dewasa yang sesungguhnya, mereka nangis tapi tangis mereka tersebut bukan berarti mereka lemah tapi lebih kepada mereka masih punya hati untuk merasakan. Tangis ini bukan juga pelampiasan, tapi benar-benar sebuah ekspresi, sedangkan untuk menyelesaikan masalahnya mereka sudah punya strategi.

Not perfect, no problem. Ada gak anak kecil yang sering banget ngeluh karna bajunya yang gak matching (gak padu mksudnya, tulisannya bnr gk tuh? Hehe) atau gak sesuai trend, atau karna dia gak ideal or proporsional seperti penilaian org banyak? Hampir gak ada deh perasaan. Ya karna itu, gak sempurna gak masalah bagi mereka. Pikiran para bocah ini belum banyak terpengaruhi harus jadi sempurna. Lalu sekarang kita lihat mereka yang “dewasa wanna be”, jelas target mereka adalah jadi orang dewasa yang ideal menurut mereka. Tapi kalo gak tercapai, stres lah mereka. Sedangkan orang dewasa yang sesungguhnya, mereka sama-sama punya target, bedanya saat target tak tercapai mereka akan introspeksi agar proses selanjutnya bisa lebih baik.

Dari dua gambaran umum tentang sifat kekanakan diatas, kita dapat melihat sebuah konsep yaitu jangan lupakan semua tapi ambil baiknya. Atau bisa kita sebut, mereka berhasil mengadaptasikan sisi baik dari sifat anak-anak kedalam sikap dewasa.

Ada sebuah untaian kalimat yang pernah saya tulis jadi status FB:
“kadang kita membutuhkan sifat kekanakan kita untuk mengimbangi sifat sok dewasa kita yang menuntun untuk selalu jadi sempurna”

Artikel ini merupakan semacam artikel yang saya paksa untuk tulis dan release di blog ini, karna janji pada salah satu tweet saya. Gagasan pokoknya pun belom tersampaikan semua. Habis saya benar-benar bingung mau menjabarkan konsep utuh yang ada dipikiran saya ke dalam tulisan. Maaf, tapi setidaknya janji saya terpenuhi.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin balas tweet saya kemarin:
“dear you grow up people, I don’t wanna grow up. This is the article which I promised”

Comments :

0 comments to “I Dont’t Wanna Grow Up”


Posting Komentar

 

[Get Widget]