Rabu, 08 Agustus 2012

“Please Gue Butuh Nasehat Lo”

Wuihh,, kalo jadi salah satu chapter dari novel kayaknya keren juga tuhh. Hahaha. Sayang saya sedang tidak menggarap sebuah novel. Lagi baca novel pun enggak, udah lama nih gak ketemu novel bagus. Ada rekomendasi novel gak? Hehe



Emm, pernah dapet kalimat ini gak dari temen atau sahabat mu? Kalo gak persis kayak kalimat itu, pokoknya yang intinya ke arah sana dehh. Ya udah kalo enggak juga gk pp deh, hayoklah kita bahas disini :D

Saat kita menghadapi sebuah masalah, adakalanya kita membutuhkan orang lain untuk memberi kita nasehat. Tak perlu lah kita jadi sok tangguh dengan sok bertahan gak mau minta nasehat orang lain. Yang ada ntar malah kita jadi stres.

Sebagai orang yang memberi nasehat tentu kita ada baiknya pertama-tama adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Dengerin dulu masalah dia apa, terus analisa saran apa yang bisa kita berikan, kemudian yang gak kalah penting mencari kalimat yang pas agar saran yg hendak kita sampaikan itu dapat ditangkap secara utuh, bukan malah salah pengertian.

Beberapa reaksi yang mungkin terjadi setelah kita beri nasehat antara lain orang tersebut akan langsung terima, iya emang aku blablabla. Ada juga yang bakal ngebantah dan kasih penjelasan lanjutan, gak gitu gini lohh blablabla. Ok kita terima semuanya, kalo reaksi pertama alhamdulillah tinggal kita tenangin aja orangnya. Tapi kalo reaksi kedua? Ya kita perlu ulang lagi step sebelumnya. Bisa jadi emang kita yang belom menangkap secara utuh masalah yang tengah orang tersebut hadapai.

Tapi pernah gak malah nasehat yang kita coba kasih ke orang itu dibantah mulu’ atau cuma diiyain terus ngeloyor pergi, atau yang ini nih diiyain tapi gak dilakuin. Gak masalah, terima aja semuanya. Itu hak orangnya kok mau nerima atau enggak.

Berarti kita aja yang perlu memposisikan diri ke “mode” yang lainnya. Karena mungkin sebenarnya orang tersebut butuh seorang pendengar saja bukan nasehat.

Dibeberapa kasus memang kadang ada yang hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan. Kalo bahasa anak muda jaman sekarang curhat a.k.a curcol. Pada kasus seperti ini sebenarnya yang ia butuhkan sebenarnya bukan saran. Melainkan orang yang mau mendengerkan keluh kesah dia dengan sesekali diberi respon biar gak seperti ngomong dengan tembok. Efeknya nanti biasanya akan sama, lega.

Jadi intinya disini saat ada teman kita bilang "please gue butuh nasehat lo", terima dulu karna pasti dia sedang dalam masalah. Tapi kalo dalam perjalanan ceritanya nanti seperti yang saya tulis diatas, berarti sebenernya dia cuma butuh pendengar. So, mari jadi pendengar yang baik.. :)

Selengkapnya...

Rabu, 01 Agustus 2012

Kalo Mempertahankan Susah Kejar Aja Terus

"Mempertahankan lebih sulit dari merebut”

Pasti udah sering denger kalimat diatas. Jadi ya kalimat itu biasanya sering kita denger saat seseorang yang pernah mencapai suatu prestasi, lalu dihadapkan untuk kembali mendapatkan prestasi yang sama.



Tapi ngomong-ngomong kalimat tersebut termasuk apa ya? Maksud saya apa pepatah, peribahasa, atau apa gitu. Ya udah kita anggap pepatah aja deh.

Dengan atau tanpa kita sadari kalimat ini bisa meracuni pikiran kita. Hingga sedikit banyak akan menjadi beban saat kita dituntut harus mencapai prestasi yang sudah kita capai sebelumnya.

Gitu aja kok repot. Waktu SMA dulu salah seorang guru saya pernah bilang yang kurang lebih maksudnya gini, ngapain pilih yang susah kalo ada yang lebih mudah. Kalo emang mempertahankan susah ya tinggalin, kejar aja terus.

Eitss, tunggu dulu. Maksud guru saya itu bukan berarti menyerah loh. Mari kita mulai membahasnya.

Coba bayangkan, saat kamu dalam sebuah kompetisi apa yang kamu lakukan untuk memenangkan kompetisi tersebut? Jawabannya mungkin beragam, tapi bisa jadi intinya adalah melakukan yang terbaik. Ya itu kuncinya! Saat kamu melakukan yang terbaik yang kamu bisa maka, kamu akan mengerahkan segenap potensi diri yang kamu miliki agar dapat mencapai hasil yang mau kamu capai tersebut. Ok katakanlah kamu mendapatkannya.

Sekarang misal kompetesi tersebut ada lagi. Saat kamu hanya berpikiran untuk bisa mempertahankan, hasilnya kamu hanya akan mendapatkan capaian yang sama. Bagaimana dengan lawan-lawanmu? Kamu akan jadi acuan, yaitu titik yang harus mereka lewati. Maka mereka akan terus menerus latihan dan meningkatkan diri agar kamu dan capaian mu terlewati. Kamu tau apa masalahnya? Mereka memegang kunci sukses yang kamu genggam sebelumnya. Yaitu lakukan yang terbaik.

Sekarang mari kita coba bawa ke contoh nyata. Misal deh, kamu berhasil memperoleh prestasi tingkat kota. Kalo misalnya nanti mempertahankan prestasi tingkat kota mu itu susyah, ya udah tinggalin aja. Lebih gampang merebut atau mengejar kan? Kalo gitu kejar prestasi tingkat provinsinya aja atau lebih nasioanal dan internasionl juga boleh. Hehehe

Mungkin sebagian orang bakal pikir, iye ngomong gitu mah gampang, prakteknya gak sesederhana itu!

Benar, tapi sikap mu salah.

Disini saya bukan mencoba membawa dunia fiksi ke dunia nyata yah. Tapi saya mau menunjukkan bahwa ini semua berkaitan dengan pola pikir atau kerennya mind set, yang ujung-ujungnya mensugestikan kamu dan pikiranmu. Kalo pikiran kita sudah berpikir, wah ini berat, yakin deh bakal jadi lebih berat dari kenyataannya.

Ohh atau sebenernya pepatah itu mau dipake sebagai pembenaran atas kegagalan kita. Aduh jangan lah ya, masa’ nyari pembenaran ikhlas aja terima kebenaran yang ada ;)
Selengkapnya...

Minggu, 29 Juli 2012

I Dont’t Wanna Grow Up

( peterpan )

Judul diatas merupakan sepenggal kalimat seorang anak yang tinggal di Never Land, musuhnya Kapten Hook, siapa lagi kalo bukan Peterpan. Kalo dari film Peterpan yang saya tonton itu sih, peterpan itu gak mau jadi orang dewasa, dia mau tetep jadi anak-anak terus. Sayangnya saya gak nonton secara lengkap film yang sudah diputar berulang kali di TV ini.

Tapi pendapat dari peterpan ini sangat pas dengan artikel kali ini yang ingin saya tulis. Jadi biarlah saya yang menerjemahkan maksud dari kalimat ini dalam pandangan saya. Walaupun kenyataannya saya sangat bingung nyusun ide pokok buat artikel ini >_<

Kita mulai dengan ruang lingkup kalimat ini. Sebenarnya secara logika tumbuh disini bisa kita kategorikan dalam tumbuh secara fisik, emosional, dan cara berpikir.

Menjadi dewasa itu artinya menjadi manusia yang matang secara emosional, cara berfikir, dan sebagainya. Tentunya ini sangat baik. Namun perlu diingat, untuk menjadi dewasa ini perlu melalui sebuah proses transformasi dari anak-anak menjadi dewasa.

Proses tranformasi ini sering kita sebut dengan masa remaja. Ya, mereka inilah manusia yang sedang mencari jati diri. Seperti pada umumnya proses, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil akhirnya nanti. Begitu pula para remaja, faktor internal dan eksternal sangat berperan penting.

Nahh, di proses transformasi khususnya dari faktor internal inilah yang ingin saya soroti.

Dalam tumbuh menjadi dewasa ini sangat mungkin bagi seorang remaja ini mengalami kelabilan. Ya maklum karena mereka harus mulai meninggalkan dunia anak-anak menuju dunia orang dewasa yang sangat baru bagi mereka. Salah satu langkah yang mungkin ada dipikiran remaja saat itu adalah mulai menyingkirkan beberapa sifat kekanakan agar bisa menjadi orang dewasa yang cool. Disinilah masalah biasanya dimulai.

Saat ia mulai mencoba menghapus sifat kekanakannya ini, pikirannya pun mulai mensugestikan untuk tidak lagi ada sifat tersebut dalam dirinya dikarnakan sudah tidak cocok. Akibatnya saat pikiran mereka telah berhasil membuat “kekebalan” tersebut, maka tubuh mereka akan “menolak” bila suatu saat sifat ini ingin kembali muncul kepermukaan.

Ok, mereka sukses menghapus sifat kekanakan mereka. Tapi apakah kejiwaan mereka otomatis telah siap? Mungkin beberapa orang berhasil mensinergikan hal ini. Sehingga bila masalah terjadi pada mereka, diri dewasa mereka siap mengatasinya. Namun bagaimana yang belom siap? Tentu masalah buat mereka.

Saat masih punya pikiran kekanakan tadi, mereka akan menampilkan diri anak-anak mereka sebagai ekspresi mereka terhadap masalah yang mereka hadapi. Tapi sekarang beda, itu sudah mereka hapus, pikiran mereka menolak, maka tindakan kekanakan itupun tinggal cerita masa lalu, tapi diri dewasa mereka belom siap.

Sehingga biasanya yang terjadi adalah mulai dari galau hingga stres serius. Kalau sudah demikian maka mereka akan mencari pelampiasan, mulai dari orang sekitar hingga social media. Dengan atau tanpa mereka sadari bentuk-bentuk pelmapiasan yang mereka lakukan sangat menunjukkan belum dewasanya mereka bahkan cenderung kekanakan.

Darisinilah saya ingin menunjukkan, sifat kekanakan itu terkadang ada baiknya. Secara umum saya ingin menampilkan sisi positif yang bisa kita ambil dari berbagai macam sifat kekanakan yang ada.

Pertama, anak kecil itu sering nangis tapi ketika nangisnya selesai ya udah selesai masalahnya. Beda dengan orang yang “katanya” dewasa. Nangis tapi begitu selesai, penyesalan akan terus berlanjut. Beda lagi dengan orang dewasa yang sesungguhnya, mereka nangis tapi tangis mereka tersebut bukan berarti mereka lemah tapi lebih kepada mereka masih punya hati untuk merasakan. Tangis ini bukan juga pelampiasan, tapi benar-benar sebuah ekspresi, sedangkan untuk menyelesaikan masalahnya mereka sudah punya strategi.

Not perfect, no problem. Ada gak anak kecil yang sering banget ngeluh karna bajunya yang gak matching (gak padu mksudnya, tulisannya bnr gk tuh? Hehe) atau gak sesuai trend, atau karna dia gak ideal or proporsional seperti penilaian org banyak? Hampir gak ada deh perasaan. Ya karna itu, gak sempurna gak masalah bagi mereka. Pikiran para bocah ini belum banyak terpengaruhi harus jadi sempurna. Lalu sekarang kita lihat mereka yang “dewasa wanna be”, jelas target mereka adalah jadi orang dewasa yang ideal menurut mereka. Tapi kalo gak tercapai, stres lah mereka. Sedangkan orang dewasa yang sesungguhnya, mereka sama-sama punya target, bedanya saat target tak tercapai mereka akan introspeksi agar proses selanjutnya bisa lebih baik.

Dari dua gambaran umum tentang sifat kekanakan diatas, kita dapat melihat sebuah konsep yaitu jangan lupakan semua tapi ambil baiknya. Atau bisa kita sebut, mereka berhasil mengadaptasikan sisi baik dari sifat anak-anak kedalam sikap dewasa.

Ada sebuah untaian kalimat yang pernah saya tulis jadi status FB:
“kadang kita membutuhkan sifat kekanakan kita untuk mengimbangi sifat sok dewasa kita yang menuntun untuk selalu jadi sempurna”

Artikel ini merupakan semacam artikel yang saya paksa untuk tulis dan release di blog ini, karna janji pada salah satu tweet saya. Gagasan pokoknya pun belom tersampaikan semua. Habis saya benar-benar bingung mau menjabarkan konsep utuh yang ada dipikiran saya ke dalam tulisan. Maaf, tapi setidaknya janji saya terpenuhi.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin balas tweet saya kemarin:
“dear you grow up people, I don’t wanna grow up. This is the article which I promised”
Selengkapnya...

Jumat, 06 Juli 2012

Selamat Hari Persahabatan

Tepat hari ini sekitar lima tahun yang lalu, saya mendapat sms dari teman terbaik yang pernah saya miliki, yang kurang lebih isinya berupa ucapan Selamat Hari Persahabatan.


Saya tidak tahu dan tidak terlalu ambil pusing apakah tanggal 6 Juli itu memang benar hari persahabatan sedunia, hanya di Indonesia, atau malah sebenarnya gak sama sekali. Bagian terpentingnya adalah sahabat saya juga menganggap saya adalah sahabatnya yang layak dapat ucapan tersebut.

Kalo ditanya sahabat, saya akan jawab The Fantastic Four empat orang sahabat yang kini hanya tinggal tiga. Teman terbaik saya yang satunya sudah duluan kembali kepada Allah SWT. Saya sudah pernah membuat artikel khusus untuk sahabat-sahabat terbaik saya ini, dengan judul Sahabat, Cerita Yang Tak Kan Pernah Berakhir.

Sampai detik ini pun saya masih meneteskan air mata kalo teringat kebaikan, ilmu, pengetahuan, dan sms terakhir yang saya terima di malam sebelum kecelakaan itu terjadi. Ahh sudahlah, yang bisa saya lakukan hanya mendoakannya dan berharap semoga ilmu-ilmu yang dulu pernah dia ajarkan bisa menjadi amal jariyah baginya. Aamiin

Artikel ini saya buat secara khusus memang untuk sahabat-sahabat baik saya, tapi secara umum untuk semua teman-teman saya. Sekarang saya ingin punya lebih banyak teman, saya ingin menjadi orang baik di mata teman-teman saya, dan saya ingin mencoba memperbaiki kesalahan saya. Dan untuk penutup artikel ini saya mau ngucapin:

Selamat Hari Persahabatan dan ayo kita berteman :)

Selengkapnya...

Jumat, 22 Juni 2012

My First Birthday Cake Surprise

Setelah sebelumnya saya bisa dibilang sukses bikin My Own Birthday Noodle, kini saya mulai mengalihkan perhatian ke kue yang sesungguhnya. Bedanya kali ini selain bukan dari mie, ini bukan buat saya. Tapi buat wanita yang paling saya sayangi, yaitu my Mom.

Dari dulu udah ada niat bener mau bikin kejutan kecil-kecilan aja sih buat mama. Tapi pas mama ulang tahun itu moment nya itu lohh, pasti pas saya gak ada di rumah. Kebetulan pas mama ulang tahun kali ini saya lagi liburan di Palembang, maka kesampaian lah niat ini. Hehehe.

Hal yang kepikiran di benak saya mau kasih apa ke mama buat ultahnya ini adalah cukup kue ulang tahun. Ya, hanya kue ulang tahun. Alesannya simple, karena saya gk punya ide lain dan karena mama emang suka kue atau roti yang enak. Berhubung saya gak tau toko kue yang recomended, jadilah saya menghubungi temen saya.

Tempat pertama yang disaranin temen saya langsung ke tempat yang kue nya paling enak menurut dia. Tapi harganya kurang bersahabat untuk mahasiswa yang belum punya gaji seperti saya sekarang. Maka dengan menyesuaikan keadaan saya, lalu dia pun kasih saran ke toko berikutnya. Gak usah sebut nama toko kuenya yahh, ntar saya dikira promosi, padahal kan saya gk dapet royalti. Hahaha. Yang jelas lokasinya itu berada di salah satu mall di Kota Palembang, yang kalo udah agak siangan dikit susah dapet tempat parkir.

Setelah menyelesaikan urusan saya dipagi harinya, lanjut saya langsung capcus ke mall yang disebutkan. Waktu itu emang udah hampir tengah hari, jam setengah dua belas siang. Untunglah jalanan bersahabat, bisa tarik gas agak cepet dan alhamdulillahnya dapet tempat parkir. Dengan pikiran hanya tertuju dari keterangan yang dikasih temen saya itu, langsung saya cari di itu toko. Okesipp, alhamdulillah langsung dapet, langsung pulang. Yang jadi pikiran saya saat itu, takutnya mama udah keburu pulang ke rumah dan cuaca yang terlalu panas takut bikin cokelat di kuenya keburu meleleh.

Setelah sampe rumah beneran mama udah pulang, lagi siap-siap makan siang pula. Tapi untunglah coklatnya gk meleleh. Jadilah saya tenteng bungkusan kuenya dengan jaket ke kamar biar gak ketauan. Saya idupin lilin angkanya, trus bingung mau gimana lagi. Maklum la yahh ini pertama kalinya saya bikin surprise ultah, kalo temen-temen saya yang lain mah udah sering. Mana kreatip-kreatip pula, buat pacarnya. Ini bener-bener serba pertama buat saya, surprise pertama yang saya bikin dan kue ultah pertama yang saya beliin. Dan spesial yang pertama ini untuk orang tua saya. Hayyo, temen-temen yang sering kasih ini itu sama pacarnya, sama orang tuanya gitu juga gk.. hehehe.

Ok lanjut ke kue saya tadi. Ya udah lahh langsung aja dehh kasih ke mama dengan senyum termanis yang saya punya. Hohoho. Buka pintu kamar dengan kaki karena tangan pegang kue, pas bener di ruang keluarga mama lagi makan sambil nonton. Mama baru noleh pas saya udah duduk juga nyodorin kuenya sambil bilang, “Happy Birthday Mom”.



Kata mama ini kue ultah mama yang pertama, dari anaknya yang pertama, surprise pertama yang saya bikin, dan kue pertama yang saya beliin. Serba pertama yahh. Hahaha

Alhamdulillah walopun kuenya gak terlalu mahal dan surprisenya gak terlalu wahh, yang penting ini adalah salah satu bentuk perhatian saya ke orang tua. Kalo ditanya doa, tentunya saya harapkan semua yang terbaik buat kedua orang tua saya. Tapi gk juga doain pas ultah doank lohh ya.

Oh iya, ulang tahun mama yang jatuh harinya kemarin itu barengan dengan ulang tahun kucing ku tersayang si Brownies yang ke enam tahun. Ini penampakan kucingnya:



Happy birthday Mom & Brownies, I love You :)
Selengkapnya...

:: My Banner ::

:: Followers ::

:: My Community ::

Komunitas Blogger WongKito Kaskus Blogger Community
-

:: My Twitter ::

 

[Get Widget]